Komunitas Indie Lampung (KO.I.LA.)
LAMPUNG MUSIC COMMUNITY

Selasa, 29 November 2011

Kenari Band

Kenari diambil dari seekor burung yang selalu terbang bebas, begitu juga sebebas kami dalam menciptakan suatu karya. Sebelum terbentuknya nama KENARI ini, band ini mempunyai  nama BOONKARAN yang bermain musik dari satu panggung ke panggung yang lain

Nama : Yanuar Fajri Siddiq
Nick Name : Bace (vocalist)
Gue anak ke 5 (lima) dari 6 bersaudara, anak dari Bapak Suhirman dan Ibu Nur’aini, kerjaan gue sekarang latihan, buat lagu, dengerin musik dan olah raga, tapi terkadang gue juga suka parkir loh didepan toko bata (lumayan buat beli rokok ama pulsa,,hehehe).
Ngeband gue suka banget, karena gue sendiri cinta banget ama yang namanya musik (bukan cewek doang gua cinta loh, musik juga), di KENARI band gue udah jalan selama 6 tahun, dan alhamdulillah ampe sekarang gue masih berjalan, dan gue berharap band KENARI ini selalu dikenang sepanjang masa.
Sebelum di KENARI band gue pernah ngeband dengan band PROJEK yang beranggotakan 4 personil, gue sendiri, array, tomi dan ebon. Di PROJEK gue bertahan sampai 3 tahun, dari tahun 2000 – 2003, sampai akhirnya gue terpecah dari PROJEK hanya karena trouble yang kecil dan udah enggak punya lagi visi misi yang sama.
Setelah lepas dari PROJEK gue gabung dengan BOONKARAN band pada tahun 2004, awalnya Cuma gue ama tong – Q yang lebih dulu di BOONKARAN, dan akhirnya gue ketemu dengan Ricky, Ade, Febri, kebetulan kalau Ricky memang teman satu kampung. Setelah jalan 1 tahun kita coba untuk menyatukan aspirasi dan visi misi yang sama untuk bermain musik sampai mancanegara, dan kami mencoba menciptakan sebuah hasil karya / lagu, hingga pada akhirnya terciptalah lagu – lagu yang menurut kami lagu kami akan mudah didengar dan dinikmati oleh semua lapisan masyarakat.
Setelah sekian lama kami berjalan, kami sepakat untuk merubah nama BOONKARAN menjai KENARI band, sambil bermusik dan menciptakan lagu, gue ama ricky kerja disatu studio recording, karena dengan kami kerja distudio recording kami bisa record lagu kami dengan gratis, walaupun dengan tidak di gaji kami juga udah seneng, karena bisa record lagu – lagu kami dengan tidak mengeluarkan biaya, karena cukup besar biaya yang dikeluarkan untuk record 1 lagu aja.
Dengan lagu – lagu yang kami ciptakan, kami mencoba untuk mengajukan demo lagu – lagu kami ke perusahaan label musik, dari pertama kami mengajukan demo dengan orang lampung, walaupun akhirnya kami hanya di janji – janjikan saja, tapi kami tidak hanya diam ditempat, kami coba lagi mengajukan demo lagu kami kejakarta meskipun hasilnya sama dengan yang kami dapat sebelumnya (Cuma janji – janji doank), hingga pada akhirnya ALLAH pun memberi jalan kepada kami, kami bertemu dengan sosok seseorang yang menurut kami beliau udah kami anggep abang kami sendiri, yaitu bang IIS ISMAIL, beliaulah yang membawa kami dan memperkenalkan kami dengan Mas DIANDRA CHANDRA (Chandra Prouction). Di Chandra Production ini lah kami bergabung sampai dengan sekarang, harapan gua pertemuan ini gak pernah ada pututsnya sampai kita semua menjadi kakek – kakek…….
Musik buat gue :
Musik itu hidup dan jiwa gue, dan musik yang bisa buat hidup gue lebih berarti disaat gue sedih juga disaat gue senang…..(music it’s my life)…..

Name : Ade Thamrin Effendi
Nick Name : Ade (Qiay) (lead gitar)
Maen guitar or musik bagiku adalah sebuah alunan nada dalam hati dan perasaanku. Dan guitar adalah sebuah media penyampai rasa dalam hati yang pastinya ku gunakan saat perasaan hati senang atau sedih. Guitar Is The Best For Me.
Ade Qiay panggilanku. Nama Qiay berasal dari bahasa daerah Lampung tempat dimana aku dilahirkan. Nama ini diberi oleh teman2 waktu pertama kali aku bermain musik dengan teman 1 kampus (ICE TEA Band) sampai akhirnya aku bertemu dengan teman2 KENARI Band. Panggilan inipun selalu terdengar.
Dengan KENARI Band aku terus menggali pengetahuan musikku sampai akhirnya aku mempunyai satu keinginan untuk mempunyai guitar elektrik yang sebelumnya hanya mempunyai guitar akustik yang diberi oleh seorang nelayan ikan. Akhirnya aku bekerja untuk mencapai keinginanku. Alhamdullillah keinginanku tercapai sampai akhirnya aku harus memilih band atau kerja. Dan aku memilih Band karena memang dari semula ku yakin bukan hanya bekerja yang dapat menghidupi kehidupanku. Dari panggung ke panggung aku bersama KENARI mencari pengalaman bermusik. Dengan harapan kami dapat dikenal orang banyak dan musik kami dapat diterima oleh masyarakat se Indonesia khususnya, dan Internasional Umumnya...
GO KENARI !!!
Name : Ricky Hambali
Nick Name : Aceng (gitar rytem)
Gw suka main guitar awalnya karena gw liat abang gw main guitar asyik banget. Trus gw coba2 belajar guitar, akhirnya gw bisa. Ternyata emang asyik banget bisa main guitar. Hehehe...
Setelah gw STM, gw coba2 ngebentuk band festival sama Febry dengan nama KEAJAIBAN Band, yang Cuma bertahan 2 tahun, karen visi nisi kami berbeda. Akhirnya gw sama febry gabung ke BOONKARAN Band.
Suka duka gw lewati bersama BOONKARAN Band, dari satu panggung ke panggung kami lewati agar band gw bisa menjadi juara di ajang festival. Seiring waktu berjalan, gw coba2 buat lagu dan bermain di jalur INDIE BAND. Tapi dulu mau recording susah banget karna fasilitas gak ada, mau bayar gak punya uang.hehehe...
Akhirnya gw sama Bache kerja di studio recording, biar bisa gratisan recordingnya. Setelah itu kami sepakat ganti nama BOONKARAN menjadi Kenari Band, sampai akhirnya kami bertemu dengan Mas Diandra De Spectrum.
Musik buat gw adalah tempat gw nuangin segala keluh kesah yang ada di hati gw, karena buat gw Cuma musik yang bikin hidup gw lebih bermakna...
I LOVE MUSIC. . . .

Name : Febriyanto
Nick Name : Embi (Bass)
Gw anak pertama dari 5 bersaudara. Awalnya gw di musik waktu SMA. Sempet fakum, pada akhirnya gw berangkat ke Jawa Barat dan kerja disana. Dah ngalamin kerja apa aja, dan gw kena sakit usus buntu dan akhirnya pulang ke Lampung. Begitu gw balik ada kawan gw, eh ngajak maen di Cafe. Akhirnya gw jalanin walaupun kondisi gw masih kurang sehat. Trus ngga’ lama dari itu gw ketemu dengan BOONKARAN. Maen bareng dan sering ikut festival. Ngga’ lama dari festival, coba2 buat lagu dan sepakat nama BOONKARAN diganti dengan nama KENARI. Alhamdulillah lancar2 aja. Baik, buruk, pahit,manis udah gw rasain tapi semuanya tetep berkah. Dan pada akhirnya Allah SWT ngasih jalan buat KENARI Band bertemu dengan label CHANDRA PRODUCTION.
Musik buat gw bener2 sangat menghibur gw. Nikmat, indah, ngga’ gw lagi seneng, sedih, musik tetep nemenin gw. I LOVE U FULL, MUSIC . . . .
Name : Ahkmad Asyhari
Nick Name : Tong - Q (Drum)
Saya anak ke 6 dari 6 bersaudara (bungsu). Saya menyukai musik sejak berusia 10 tahun. Awalnya saya belajar bermain guitar. Tetapi ketika saya berusia 12 tahun saya suka main drum. Sejak itu saya belajar di salah satu sekolah musik yang ada di Bandar Lampung.
Saya mempunyai band pada tahun 2000, Saya bergabung di BOONKARAN dengan kakak2 kandung saya sendiri (Bace) vocalis Kenari sekarang. Selain bermusik, saya juga sempat bekerja di salah satu perusahaan. Modal saya mencari ilmu di sekolah musik. Saya bermain musik untuk mengejar cita2 saya dan impian saya selama ini.
Musik buat saya adalah hidup saya saat saya lagi kesal, lagi sedih jadi pelampiasannya saya main drum. Jadi rasa kesal sedih saya jadi ilang. Pokoknya oke dech music...
I LOVE MUSIC...

Sabtu, 26 November 2011

Mengenali Potensi Musik Indonesia di Pasar Dunia

Dari perbincangan dengan beberapa tokoh musik Indonesia yang pernah berpentas di luar negeri, inti permasalahannya selalu sama. Mereka masih kesulitan mendapatkan dana agar bisa mendapat kesempatan manggung di luar neger.

Sebagian dari mereka malah mengatakan undangan yang mereka terima seringkali tidak dapat dipenuhi karena tidak ada sponsor. Padahal mereka bukanlah pemusik sembarangan. Di tangan mereka terletak peluang untuk menerobos pasar musik internasional. Merekalah ujung tombak promosi pasar musik Indonesia.

Tanpa adanya reputasi yang meyakinkan, dunia internasional tidak akan memberikan kesempatan kepada mereka untuk dapat pentas. Penting untuk menelusuri seberapa besar potensi pasar musik Indonesia di dunia internasional yang dapat direbut oleh produk world music/beat nasional. Produk ini diwakili oleh kelompok seperti Krakatau, Simak Dialog, Samba Sunda, Gangsadewa, Debu, Jes Gamelan Fusion, Bona Alit, Discus, Svara Semesta, Tropical Transit, Altajaru, Balawan, Toba Ansambel, Sonoseni, DKSB, Ozenk Percussion, Indonesian National Orchestra (INO) dan lainnya.

Para musisi itu tekun menggarap elemen musik lokal secara kreatif sebagai materi ekspresi mereka. Ini penting ditelusuri bagi pengembangan sektor industri kreatif nasional yang bertumpu pada produk musik.

Beberapa dekade yang lalu, pasar musik internasional mulai tertarik oleh produk yang dikenal sebagai world music. Pada awalnya, world music dimengerti sebagai musik-musik asli dari negara-negara non-Barat, atau yang di Indonesia dikenal sebagai musik tradisional.

Produk world music pertama yang meledak di pasar dunia adalah musik Amerika Latin. Musik Latin ketika itu merangsang imajinasi para musisi jazz di Amerika Serikat, sehingga sejak awal sudah menguasai pangsa pasar world music di panggung internasional.

Keuntungan dari musisi-musisi Latin adalah letak geografis mereka yang berdekatan dengan pusat pasar musik dunia, yaitu Amerika Serikat. Selain itu, sejak awal musik Latin ini sudah merupakan paduan antara musik lokal negara-negara Amerika Latin dan musik Barat. Ini memudahkan para pemusik Amerika Serikat atau Eropa untuk menggarap mereka dalam konteks bahasa ekspresi musik tonal.

Pada dekade 80an, terjadi ledakan pasar world music yang kedua. Kali ini yang mendapat keberuntungan adalah musik-musik tradisional Afrika. Jika musik-musik Latin tiba-tiba menarik perhatian dunia karena dimanfaatkan oleh tokoh musik jazz, musik-musik Afrika dimanfaatkan oleh tokoh musik pop seperti Paul Simon. Pada saat yang bersamaan tokoh musik rock seperti Peter Gabriel mulai melihat potensi pasar world music di panggung internasional. Gabriel menggelar sebuah festival world music berskala besar yakni WOMAD (World of Music Arts and Dance).

Pada momentum itu musik-musik folk Eropa juga turut menerobos pasar, terutama yang berasal dari Irlandia (Celtic). Musik tradisional Asia yang berhasil ikut dalam gejolak pasar world music umumnya dari India karena mereka memiliki ‘pahlawan pasar’ seperti Ravi Shankar dan Zakir Husein. Sejak tahun 60an India memang sempat beruntung karena The Beatles memopulerkan musik mereka.

Untuk Indonesia, gamelan yang sering jadi unggulan di pasar dunia. Tidak banyak jenis world music di dunia yang berbentuk orkestra seperti gamelan. Karena itu, gamelan menjadi populer di lingkungan universitas yang memiliki program etnomusikologi.

Etnomusikologi adalah sebuah disiplin ilmu baru di bidang musik yang mempelajari musik-musik etnis dari seluruh dunia. Istilah world music menjadi populer justru karena digunakan secara luas di bidang etnomusikologi. Para sarjana di bidang ini bertanggung jawab dalam menyebarluaskan pengetahuan umum tentang world music melalui publikasi mereka. Banyak etnomusikolog juga bekerja di perusahaan-perusahaan rekaman dan retail musik kecil maupun besar seperti Sony Music atau Virgin Record.

Berbarengan dengan perkembangan pasar world music dan bidang etnomusikologi, dunia musik kontemporer di Amerika juga semakin tertarik pada musik-musik non-Barat. Para komponis Amerika, terutama yang berasal dari Pantai Barat, pada tahun 60an sudah tidak lagi berkiblat ke Eropa, melainkan ke Asia dan Afrika. Akibatnya, lahirlah sebuah gerakan musik baru yang kemudian dikenal dengan nama minimalisme. Pelopornya seperti Terry Riley yang belajar gamelan dan musik-musik Timur Tengah, La Monte Young dan Philip Glass yang belajar musik India, dan Steve Reich yang belajar gamelan dan musik Afrika. Keempat orang ini yang bertanggung-jawab atas popularitas genre musik kontemporer yang sebelumnya memiliki pasar sangat terbatas.

Akibat dari akumulasi perkembangan popularitas world music tadi, pada tahun 90an pangsa pasar jenis musik ini sudah melebihi pasar musik jazz dan klasik yang telah terbentuk beberapa puluh tahun lebih awal. Pada tahun 80an, dari sesuatu yang tidak tercatat, pasar world music berhasil mencapai 3 persen dari pangsa pasar seluruh jenis musik di dunia. 10 tahun kemudian pangsa pasar jenis musik ini bergerak mencapai 10 persen.

Jika secara kasar, nilai pasar seluruh jenis musik yang ada berkisar sebesar 80 milyar dolar AS, maka pangsa pasar world music sudah mencapai 8 milyar dolar AS. Namun produk yang mendominasi pasar world music masih berasal dari Amerika Latin, Afrika dan Eropa. Produk world music Asia tertinggal sangat jauh.

Negara yang memiliki kekayaan world music terbesar di dunia, tidak lain adalah Indonesia. Jika dihitung ragamnya, kekayaan musik asli Indonesia dari Sabang hingga Merauke mungkin tidak kalah dengan benua Afrika, apalagi Amerika Latin dan Eropa. Dalam konteks inilah pembukaan tulisan ini terbaca sangat ironis. Di tengah-tengah munculnya kesadaran akan peluang tiap negara di dunia untuk mengembangkan industri kreatif, para pahlawan pasar musik kita justru tidak mendapat tempat di mata masyarakat dan pemerintah.

Indonesian Music Expo (IMEX) akan dilaksanakan 7-14 November di Nusa Dua, Bali. IMEX bertujuan untuk memberikan kesempatan yang luas kepada para pahlawan pasar musik kita bertarung secara adil merebut hati para ‘pembeli’. Bali adalah tempat yang sangat ideal untuk menguji pasar world music Indonesia karena wilayah ini paling internasional di seluruh negeri.

Ubud, misalnya, sudah menjadi pusat kesenian internasional dalam skala yang kecil.

Wilayah Ubud mungkin kecamatan yang paling pesat berkembang dan paling internasional di seluruh Indonesia. Saat ini, kecamatan sekecil Ubud sudah memiliki tiga festival seni internasional yang bergengsi yaitu Ubud Writers and Readers Festival, Bali Spirit Festival dan Bali Inter-Music Festival. Oleh sebab itu, usai di Nusa Dua, IMEX akan bergeser ke Ubud pada tanggal 15-16, khususnya untuk acara workshop dan seminar dengan topik “Mengenali Potensi Pasar Musik Indonesia”.

Para pembicara dalam seminar ini adalah para pahlawan pasar yang saya jejerkan tadi. Mereka diharapkan dapat menyumbangkan pengalaman mereka bergulat di panggung internasional kepada seluruh peserta IMEX, terutama yang belum memiliki kesempatan untuk tampil di luar Indonesia.

Acara workshop IMEX akan diisi oleh seorang ahli musik digital dari Australia, Profesor Greg Schiemer. Selama empat hari dari tanggal 10-14 beliau akan mengajarkan bagaimana menciptakan (bukan hanya menggunakan) teknologi yang dapat digunakan untuk membuat musik secara kreatif.

Profesor Schiemer adalah salah seorang ahli musik digital dari Universitas Wollongong yang banyak mendesain piranti elektronik baru untuk penciptaan musik. Perangkat elektronik ini nantinya akan bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan alat-alat musik tradisional Indonesia.

Karya-karya musik digital Prof. Schiemer banyak memanfaatkan konsep musik gamelan. Salah satunya yang luar biasa adalah “Pocket Gamelan” yang dirancang untuk 30 telepon seluler yang diprogram dengan frekuensi ketinggian nada-nada gamelan.

Workshop ini juga akan menjadi ajang kolaborasi antara Prof. Greg Schiemer dengan para empu musik tradisional yang datang dari pelbagai penjuru Nusantara ke IMEX di Pantai Peninsula, Nusa Dua.

Oleh: Franki Raden, Ph.D.

Album '1000 Gitar untuk Anak Indonesia' Siap Dirilis

Jakarta - Gerakan '1000 Gitar untuk Anak Indonesia' diabadikan lewat album. Album yang bertajuk sama dengan nama gerakannya itu akan segera dirilis untuk membantu aksi sosial para musisi untuk anak jalanan.

Rencananya album tersebut akan dirilis pekan depan. Ada 22 track dalam album yang dikemas dalam dua CD tersebut.

Sebagai lagu andalan mereka menjagokan '1 Gitar, 1000 Nada' ciptaan Pongki Barata. Pongki juga berperan aktif mengumpulkan materi untuk album tersebut dari pada musisi yang terlibat.

"Dalam menggarap ini kendalanya cuma waktu sama izin. Buat ngumpulin materi dari masing-masing musisi yang sibuk masing-masing itu lama. Ngurus perizinan untuk label-label yang menaungi artis-artis ini juga nggak gampang," ujar Pongki ditemui di Rolling Stone Cafe, Jl Ampera, Jakarta Selatan, Rabu (26/10/2011).

Baim berperan besar untuk mengaransemen lagu '1 Gitar, 1000 nada'. Musisi lain yang terlibat adalah Kin 'The Fly', Aria Baron, Dewa Budjana, Gugun 'Gugun Blues Shelter', Abdee Negara, Eross Candra, Cella 'Kotak', dan Piyu.

Sementara untuk lagu-lagu lainnya, para musisi juga menyumbangkan karya mereka untuk diisi sama-sama. Para musisi pun menaruh harapan besar album tersebut bisa memberikan banyak kontribusi untuk aksi sosial mereka.

Hingga kini 'Gerakan 1000 Gitar untuk Anak Indonesia' masih menyalurkan gitar kepada anak-anak jalanan. Tak sekadar memberikan gitar, mereka pun tetap memantau bibit-bibit unggul penerima gitar itu, siapa tahu bisa diproduseri.

Sumber : Annisa Steviani - hotMusic

Selasa, 08 November 2011

8 jpg | 1920x1280~4368x2912 | 27 Mb

leaf and paint - ClipArt
pass : koila

Windows Codec 7

Software ini berguna buat kamu-kamu yang hobi nonton film, mungkin sering terjadi kesalahan saat kamu akan memainkan / memutar video, dengan pesan file not support video, itu dikarenakan aplikasi yang kamu gunakan tidak mampu membaca format dari video tersebut. nah ini dia aplikasi yang mungkin berguna buat temen-temen semua.

Klik Disini : pass : hadee

Sample Drum





Adobe Font Folio 11 | 410MB
Adobe Font Folio 11 opentype edition is a collection of more than 2,300 fonts from the Adobe Type Library in OpenTyper format, which provides enhanced linguistic support, advanced typographic features, and true cross-platform compatibility. Use Font Folio 11 to expand your design options in virtually any medium - including print, web, video, and electronic documents.

Password : (hadee)

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Enterprise Project Management